
Namun, tak berselang lama, rupiah berbalik arah dengan bergerak ke angka Rp14.875 per dolar atau melemah 0,06 persen dari dolar AS. Pergerakan rupiah ini mengikuti mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya.
Pasalnya di saat bersamaan, ringgit Malaysia minus 0,08 persen, peso Filipina minus 0,07 persen, dolar Hong Kong minus 0,02 persen, dan baht Thailand minus 0,01 persen. Mata uang Asia yang berada di zona hijau hanya yen Jepang dan won Korea Selatan, yang masing-masing menguat 0,02 persen dan 0,17 persen.
Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru bersandar di zona hijau. Rubel Rusia menguat 0,12 persen, dolar Australia 0,19 persen, euro Eropa 0,05 persen, dan dolar Kanada 0,05 persen. Hanya franc Swiss dan poundsterling Inggris yang melemah masing-masing 0,02 persen dan 0,03 persen.
Reza mengakui saat ini rupiah mendapatkan penopang dari penurunan permintaan pasar akan mata uang safe haven, seperti dolar AS. </span>Tapi sentimen tersebut masih kalah kuat dibanding aksi tunggu pasar terhadap hasil pertemuan Komite Federal pasar Terbuka (FOMC).
(uli/agt)